BeritaBalap.com-Pacuan Yamaha MX King 150 sapu-bersih Juara Nasional dari 4 Kelas Utama. Mulai expert, novice, rookie dan beginner. Ini dalam seri Final MotoPrix 2026 region Jawa di Sirkuit Mijen Semarang, Ahad lalu. Bosankah ? Tapi itu fakta aktual.
Mulai Akbar Abud (Aben Racing) terbaik di seeded, kemudian Reykat Yusuf (Dits Racing) jawara nasional pemula. Keduanya dikawal langsung mekanik Leon Chandra (Racetech).
Selanjutnya Arkana Ocktane (Yamaha AMS TDR Cargloss IRC RRS) juara nasional Rookie (MP3) by Konar RRS dan Farrel Putra Zidane (H. Lanosin Bintang Centula) terbaik nasional Beginner (MP4) by Taufik TMS. Semua naik MX King. Itu faktual dan aktual.
Sebagian besar mekanik memang konsen riset MX King. Cek saja di MotoPrix 2026 Mijen kemarin ! Selain nama diatas, adapula tuner Bima Aditya The Strokes55 yang motor garapannya (SAE Racing Team) ikut ramaikan seeded hingga borong podium 1-2 expert. Dalam 2 race pula. Tuner lain yang juga fokus banget MX King seperti Om Hawadis, Subur LFN, MBKW2, GDT Racing dan lain lain.
Pertanyaan kritisnya dari fakta tersebut, bagaimana manajemen racing Honda, khususnya konteks balap nasional ? Apakah belum ada policy atau strategi out of the box yang konsepnya ingin mereformasi keadaan dalam negeri yg sudah berlangsung relatif lama. Jangan anti kritik atau anti input !
Contoh sederhana, kenapa tidak ada support buat tim Honda yg fokus di level expert. Kan aturan RPM Yamaha MX King sudah dikurangin hingga 14.500. Beda saat sebelumnya yg dibebaskan hingga bisa tembus RPM 15.600.
Pada intinya, support system itu penting. Ketika siap merubah metode counter attack alias serangan balik, harus diikuti hal-hal lain.
Misal ketersediaan spare part yg melimpah dan harga terjangkau buat mendukung langkah riset dan pengembangan. Ini dilakukan pabrikan Yamaha. Jika tidak, dijamin sulit sekali bro.
Semoga ada reformasi dari manajemen racing Honda kedepan (2027) hingga bisa membangun kekuatan solid, terukur dan terarah. Balapan jadi seru dan sedap dinikmati hingga heart-rate atau denyut jantung sekira 100-120 per/menit.
So, butuh keberanian spesial pihak terkait “opinion leader” untuk melakukannya. Salam memainkan logika common sense. BB1



















