Bongkar Rahasia MX King 199,2 cc by Hoho, Jawara Bebek 200 cc (IDC 2019 Kebumen)

BeritaBalap.com-Memasuki seri ke-2 gelaran Indonesian Dragbike Championship (IDC) 2019 di Kebumen, Minggu kemarin (23 Juni), peta persaingan kelas Injeksi semakin memanas. Salah satu challengernya adalah Yamaha MX King 2016 milik Sinyo Orlando asal Sidoarjo Jatim yang menyabet podium 1 di kelas Bebek 200 cc TU Injeksi.

Mekaniknya ialah Yusuf Nugroho atau yang beken dengan sapaan Hoho. Kudabesi yang mengusung tim HBM Alim Ziyad HO2 Racing ini mencatat waktu 7,284 detik.  Nah, dalam hal ini portal BeritaBalap.com yang paling lengkap bicara Berita Balap akan membongkar rahasia mesin yang terbukti menjadi yang terbaik di IDC 2019 Kebumen ini.

BACA (JUGA) : IDC 2019 Kebumen : Diramaikan 635 Starter, Ini Hasil Juara Lengkapnya,…!!!

koizumi

Untuk racikan mesin kuda besi lansiran 2016 ini sebenarnya konsepnya fokus ke torsi yang besar dengan cenderung mainkan stroke panjang di angka 66 mm. Jadi masih dengan stang piston asli MX King tapi memindah maju pen kruk-as. Diameter piston cukup di angka 62 mm, dari angka tersebut muncul volume silinder 199,2 cc. Masih aman dari aturan main 200 cc.

Ketika badan MX King ini sudah jauh lebih gede dari standarnya (150 cc), maka butuh pasokan makanan yang lebih banyak juga. Itu ilustrasinya, dalam hal ini durasi camshaft 270 derajat dipadukan dengan diameter klep in 25 mm dan out 22 mm.

Throtle Body UMA Racing Custom dengan Nozzle Injektor tambahan

Racikan ini tadi bagi Hoho yang merupakan alumnus Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta sudah pas untuk urusan efesiensi volumetrik. Sudah sesuai kebutuhan di ruang bakar untuk proses kompesi.  Kemudian masuk ke bagian kerja injeksi, mekanik dengan nama bengkel HO2 Racing yang berada di Jl. Mangesti-Mayang, Gentan, Sukoharjo ini mengawali pengerjaan pada TB Uma Racing yang direamer ke angka 35 mm.

Guna mendapatkan debit kabut bahan bakar di angka 330 cc/menit, maka doi adopsi dua nozzle injektor langsung yang dimana satu dari nozzle Yamaha R25 terpasang dipangkal TB, sedangkan nozzle Yamaha lainnya sebagai tambahannya dipasang di depan TB.

“Ini custom saja, sebenarnya konsep teknologi injeksi lama, karena kalo hanya pakai nozzle R25 kapasitas yang dibutuhkan masih kurang,” terang Hoho. “Untuk jenis nozzle tambahan itu aku comot dari Yamaha yang biasa dipakai di motor Z1 ataupun Vega ZR injeksi,” imbuhnya. Agar lebih stabil lagi kedua nozzle injektor lagi ditopang oleh fuel pump Yamaha R25.

ECU aRacer AF1 Wideband

Kemudian untuk perangkat ECU memakai aRacer type RC1 Super dengan bantuan Wideband AF1 dari aRacer juga sebagai modul pembaca sensor lama AFR. Kelistrikan mutlak bersandar pada baterai 7,4 Ampere yang juga diperkuat dengan power up MKO. Terlebih setting kudabesi ini total lost tanpa magnet & spul kelistrikan. Untuk itu rotor sensor kruk as dibuat khusus dengan bobot 700 gram yang titik sensornya ada 11 titik atau 12-1.

Knalpot MCC yang didesain khusus sesuai kebutuhan mesin

Muara akhir dari hasil pembakaran disalurkan memakai knalpot MCC Racing Solo yang dibuat sesuai dengan pesanan khusus HO2 Racing. Koil Nology dan busi NGK R menyulut ruang bakar yang hasil akhirnya dapat mengail power mesin menjadi 41 HP dan torsi 24 Nm dengan RPM maksimal 13.800.

“Memang RPM tak terlalu tinggi, karena torsi sudah besar dan efeknya bakal lebih awet di mesin, selanjutnya tenaga dan torsi mesin yang besar tersebut sebelum tersalurkan ke roda agar tak terlalu liar makanya untuk transmisi aku pertahankan 5 speed dengan gear rasionya yang lebih dibikin panjang di semua gear kecuali di gear 4 yang masih memakai aslinya,’ ungkap Hoho.

Terakhir yang paling penting adalah pada suhu mesin yang harus stabil karena sistem injeksi sangat peka terhadap perubahan suhu yang extreme. Jadi konteks menjaga temperatur mesin sangat penting ya.

Radiator by QTT agar suhu mesin tetap aman terkendali

“Kinerja mesin motor ini optimal di angka 90 derajat celcius hingga 92 derajat celcius, kendala yang terjadi saat di sirkuit adalah mudah panasnya mesin saat antri start di waiting zone, karena kalo suhu mesin sudah melewati batas atas ataupun batas bawah pasti performa mesin tidak optimal, meski MX King sudah terbantu dengan pendingin radiator namun radiator bawaan aslinya masih kurang kinerjanya dengan settingan mesin kayak tadi, jadi aku pakai radiator QTT yang kapasitas sekitar 600 cc, itupun kipas asli bawaannya masih tetap aku pasang kembali agar lebih maksimal sistem pendinginannya,” tutup Hoho. dnar

 

Facebook Comments

You May Also Like