Haji Supriyono Kandidat Kuat Ketum IMI DKI Jakarta 2026-2030, Sudah 20 Tahun Pengurus IMI Dan Pelaku Signifikan Balap Nasional

BeritaBalap.com-Menarik mencermati kandidat Ketua Umum (Ketum) Pengprov IMI DKI Jakarta untuk periode 2026-20230, ialah Haji Supriyono yang secara logika sederhana memang sudah layak. Itu jika kita melihat dalam konsep komunikasi yang disebut frame of reference atau kerangka acuan dan field of experience (pengalaman).

Sebelum kita bahas, Haji Supriyono dipastikan Jumat lalu (21 Agustus) sudah melengkapi berkas administratif, termasuk minimal dukungan suara sebagai syarat pendaftaran. Alhasil, sudah berkekuatan hukum ya.

Sehubungan sepak terjang Haji Supriyono, saya paham sekali sejak tahun 2000-an ketika saya masih menjadi jurnalis Tabloid Ototrend-Jawa Pos Group (2000-2017) hingga saat berita ini ditulis sebagai owner dari BeritaBalap.Com dan Video Balap.

koizumi

So, konsisten terlibat dalam berbagai kegiatan otomotif, khususnya dunia racing. Support banyak tim, event balap dan yang lebih spesial dalam beberapa tahun belakangan mendukung para pembalap Indonesia yang pentas di balap dunia (World Sportbike), Asia dan nasional bersama Pikoli Racing. Termasuk pula dalam kompetisi balap mobil ya.  Alhasil, dapat disimpulkan memang sudah banyak dikenal atau eksistensinya diakui banyak pihak.

Catatan penting lain, Haji Supriyono sudah menjadi pengurus IMI selama 4 periode kepengurusan. Dalam hal ini sejak era (alm) Judiarto dan Anondo Eko. Jadi sudah sekira 20 tahun ya sebagai pengurus IMI, bukan pengurus lain di luar konteks “IMI”. Termasuk terlibat langsung dalam Kontingen PON DKI Jakarta untuk Cabang Olahraga Bermotor .

Ini saat mendampingi para pembalap dunia dan nasional, baik motor dan mobil yang disupport Haji Supriyono (Pikoli Racing) dalam acara IMI Award

Sehubungan acara pemilihan Ketum Pengprov IMI DKI Jakarta sendiri akan dilakukan pada Sabtu ini tanggal 29 Agustus di Gedung KONI DKI Jakarta Jalan Tanah Abang.

Pastinya berbagai manuver sudah dan akan terjadi, lobi-lobi politik ataupun nantinya jika ada rekayasa dari pihak tertentu untuk memenangkan seorang calon. Itu tradisi. Misal sehubungan jumlah pemilik suara yang kerap diperdebatkan. Bukannya disosialisasi jauh hari dan inkracht alias berkekuatan hukum hingga tidak bisa diubah. Bukan diperdebatkan jelang pemilihan. Itu lagu lama “Aku Masih Seperti Yang Dulu“.

Ini yang menarik dicermati untuk diungkap ditengah kondisi ekonomi Indonesia yang tidak baik-baik saja tetapi pada sisi lain rakyat makin berani dan makin kritis. BB1

 

 

You May Also Like